Monday, June 9, 2014

Cloud Computing untuk Sistem Smart Grid

Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.

2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.Pengelolaan energi perlu dilakukan mengingat sumber energi semakin menipis, contohnya bahan bakar fosil. Juga meningkatnya efek rumah kaca. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengelolaan energi cerdas yang merupakan pengembangan dari konsep sebelumnya, agar dapat meningkatkan efektivitas penggunaan energi. Dengan ini akan dilakukan pengendalian secara menyeluruh terhadap seluruh variable dari sisi pembangkitan sampai sisi pengguna akhir.
Keberadaan pembangkit energi alternative memunculkan variable-variabel baru dalam jaringan penyebaran listrik yang meminta peninjauan kembali keseimbangan pengasupan energi dari pembangkit berbeda untuk menjaga permintaan listrik tetap stabil. Pengelolaan energi ini disebut smart grid.
Cloud computing diaplikasikan dalam sistem smart grid ini untuk mengakomodir semua variable smart grid dalam satu operasi yang dapat diakses darimana saja, dan dapat memuat semua media, data dan aplikasi yang dibutuhkan client dalam satu server sehingga apa yang perlu dilakukan oleh client adalah cukup sekedar input data dan atau menerima outputnya. Hal ini didasari oleh teknologi distributed computing atau dengan grid computing.
Smart grid adalah istilah untuk pemodernisasian sistem pengelolaan enrgi listrik yang dapat dimonitor, dijaga dan dioptimalkan operasi antar elemen interkoneksinya. Mengimplementasikan cloud computing kedalam sistem yatu dengan menghubungkan komponen-komponen smart grid kedalam satu jaringan komputasi, kemudian setiap komponen tersebut berinteraksi dan saling memberikan informasi mengenai tiap titik pengamatan. Dengan cloud computing maka sistem smart grid akan ditambahkan beberapa pusat data, yaitu : panel pengamatan, panel operasi, pusat data, dan antar muka pengalamatan dan control.
Kelebihan dan kekurangan implementasi cloud computing dalam sistem smart grid
Kelebihan
1.       Sistem komunikasi awan akan memfasilitasi sistem keamanan sentral dan mengakomodasi pembaharuan media masa depan dengan kemudahan upgrade sistem, juga membantu pengembangan interopable sistem.
2.       Komputasi awan mampu memberikan suatu sistem yang menjamin kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan.
3.       Manajemen data termasuk seperti identifikasi data, validasi, akurasi, updating, time-tagging,  konsistensi antar database, dll. Merupakan manajemen real time yang dimudahkan dengan pemusatan data di komputasi awan. Teknik dan model data seperti data-warehousing dan data mining sering diterapkan untuk menangani sejumlah besar sinkronisasi dan rekonsiliasi yang  diperlukan diantara database yang telah ada dan database yang baru muncul. Komputasi awan juga terspesialisasi untuk menangani data dalam skala besar.
Kekurangan
1.       Sistem sentralisasi yang dianut oleh komputasi awan membuat seluruh informasi dalam smart grid ditangani dalam satu awan. Artinya disini diperlukan spesifikasi awan yang berbanding lurus dengan besarnya sistem yang dilayani oleh smart grid. Makin besar sistem, makin besar bandwidth yang diperlukan dan makin tinggi spesifikasi server yang harus terpasang. Hal ini akan berdampak pada biaya instalasi dan biasa pemeliharaan terhadap infrastruktur awan terpasang.
2.       Komputasi awan adalah teknologi distribusi baru sehingga memerlukan personel operator yang bisa beradaptasi dengan teknologi baru ini. Training personel akan diperlukan dalam beberapa sisi dan rekruitmen personel akan menstabilkan bagian khusus di awan. Nara sumber akan diperlukan untuk melakukan penyesuaian dalam beberapa expert sistem.

tulisan ini merupakan review dari jurnal berjudul Cloud Computing untuk Mendukung Aplikasi Smart Grid oleh Tinton Dwi Atmaja dan Dadan Ridwan Saleh

Wednesday, January 22, 2014

Deskripsi Tugas dan Sistem Penggajian


DESKRIPSI TUGAS

Contoh perusahaan yang digunakan adalah perusahaan percetakan, berikut deskripsi tugas dari masing-masing divisi dalam perusahaan.
  1. CEO     : merupakan jenjang tertinggi dalam perusahaan, yang mengatur keseluruhan organisasi. CEO  bertugas untuk memimpin, mengelola dan mengambil keputusan bagi setiap divisi-divisi dibawahnya.
  • Administrasi    : berhubungan dengan seluruh arsip yang digunakan dalam perusahaan. Tugas divisi ini mengelolanya dalam bentuk yang rapi agar mudah diakses. Dibawah divisi ini terdapat resepsionis dan HRD.
  • Resepsionis     : menerima tamu dan menerima order yang datang dari customer, untuk diproses oleh bagian lain.
  1. HRD                 : mengatur sumber daya manusia, dengan melakukan pengadaan atau rekruitmen karyawan serta pengembangan dan evaluasi karyawan.
  2. Desain             : divisi ini bertugas mendesain pesanan yang akan dicetak. Karyawan dalam divisi ini harus menguasai segala jenis software desain grafis. Jika customer datang dengan desainnya sendiri, maka tugas divisi desain adalah mengatur tata letaknya sehingga tepat dengan ukuran kertas atau kain untuk dicetak.
  3. Percetakan      : bagian ini melakukan tugasnya ketika telah mendapatkan hasil desain yang sudah fix dari bagian desain, bagian ini terbagi menjadi kepala percetakan dan karyawan percetakan.
  • Kepala percetakan      : mengelola bahan baku yang digunakan dalam mencetak order, mengelola menjaga kondisi mesin percetakan agar tetap prima dan mengatur karyawan percetakan.
  • Karyawan percetakan : melakukan pencetakan order.
Struktur Penggajian 


Keterangan Flow Chart :

  1. Data kehadiran seluruh  Karyawan yang sudah berupa rekapan per hari,   diperiksa ulang tentang kebenarannya dan siap dijadikan data penggajian.
  2. Departemen HRD (bagian Pay Roll) menerima data kehadiran yang sudah valid untuk diproses penggajiannya orang per orang.
  3. Departemen HRD (bagian Pajak Pph 21) menghitung atau mengoreksi pajak gaji baik yang gajinya ada kenaikan, atau yang ada perubahan status keluarga (tambah anak atau dari yang lajang menjadi sudah menikah dan lain-lain).
  4. Departemen HRD (bagian Pay Roll) setelah menerima rekapan revisi perhitungan pajak gaji dari bagian pajak, membuat Slip gaji dan daftar Gaji seluruh Karyawan untuk dikoreksi dan dimintakan tanda tangan Manajer HRD.
  5. Departemen Keuangan di bagian administrasi menerima Daftar Gaji dan Slip Gaji seluruh Karyawan dari Dept HRD untuk dikoreksi secara menyeluruh baik perhitungan gaji take home pay-nya masing-masing Karyawan maupun perhitungan pajak gajinya.
  6. Apabila Departemen Keuangan menemukan ada kesalahan hitung atau salah ketik, harus segera mengembalikannya ke Dept HRD atau cancel.
  7. Apabila Dept. Keuangan hasil evaluasinya tidak menemukan kesalahan pada Daftar Gaji/Slip Gaji tersebut, maka wajib menanda-tanganinya dan membuat cek tunai/bilyet giro sebesar jumlah  gaji seluruh Karyawan lalu menyerahkannya kepada Pimpinan Perusahaan.
  8. Pimpinan Perusahaan menerima dan menanda tangani Daftar Gaji seluruh Karyawan dan cek tunai/bilyet giro untuk tranfer gaji Karyawan via Bank yang ditunjuk.
  9. Bank yang ditunjuk menerima daftar gaji dan cek/bilyet  transfer ke rekening pribadi masing-masing Karyawan pada tanggal yang telah ditentukan.
  10. Karyawan pada tanggal penggajian yang telah ditentukan, mengambil gajinya melalui kartu ATM  Bank yang ditunjuk, dengan rentang waktu selama 24 jam per hari.
  11. Selesai